Kamis, 22 Oktober 2009

Penelitian Tindakan Kelas

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini sebagian siswa masih beranggapan bahwa pelajaran IPA khususnya Biologi merupakan pelajaran sulit dan menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar siswa.

Padahal pelajaran biologi kalau dikemas dengan menggunakan pendekatan yang benar merupakan pelajaran yang sangat menarik dan menyenangkan karena ilmu ini banyak berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, dengan alam dan bahkan dengan diri manusia. Pendidikan sains bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan, memahami konsep-konsep Biologi dan saling keterkaitannya, mengembangkan daya penalaran untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, dan memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya, meningkatkan kesadaran untuk memelihara dan melestarikan lingkungan serta sumber daya alam, melakukan kerja ilmiah untuk membangun nilai dan sikap ilmiah. (Puskur, Balitbang Depdiknas, 2002).
Sebagian besar siswa SMAN 1 Sidemen masih belum mencapai ketuntasan belajar sesuai yang diharapkan sekolah yaitu nilai aspek kognitif minimal 70 dengan ketuntasan klasikal 85%. SMAN 1 Sidemen merupakan salah satu sekolah pinggiran yang dekat dengan kabupaten Klungkung. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya SMA ini selalu menerima siswa baru yang memiliki kemampuan kurang. Para siswa akan memilih SMAN 1 Sidemen jika tidak diterima di sekolah lain. Jadi sekolah ini sebagai sekolah penampungan. Bahkan untuk tahun 2005/2006 SMAN 1 Sidemen menerima siswa kelas X dengan status tidak lulus di SMP sebanyak 27 orang. Tentu semuanya ini berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Data yang di peroleh penulis terhadap hasil belajar biologi kelas XI PSIA untuk semester 2 (dua) tahun pelajaran 2006/2007 adalah sebagai berikut.
Tabel 1.1 Rerata Nilai Pelajaran Biologi Kelas XI PSIA Semester 2 Tahun Pelajaran 2006/2007
No Nilai Ketuntasan
Kognitif Psikomotor Afektif
1 69,40 69,22 S 81%
Dari data tesebut diperoleh gambaran bahwa ketuntasan belajar mata pelajaran biologi di kelas XI PSIA semester 2 (dua) SMAN 1 Sidemen, Karangasem tahun pelajaran 2006/2007 belum mencapai ketuntasan belajar yang ditetapkan oleh sekolah yaitu 85%. Hal ini perlu dicarikan solusi agar prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran biologi dapat meningkat.
Dewasa ini, ada kecendrungan bahwa siswa akan belajar lebih baik jika diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipejarinya, bukan “mengetahui”-nya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang (Nurhadi dalam Sudibawa, 2007:2). Pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. (Wina Sanjaya, 2007:255).
Pembelajaran kontekstual merupakan suatu upaya pendekatan pembaharuan pendidikan yang dikatakan sebagai hasil integrasi dari banyak praktik pembelajaran yang baik. Dengan pembelajaran kontekstual diharapkan pembelajaran makin relevan dan bermanfaat secara fungsional bagi seluruh siswa. (Depdiknas, 2002:1). Pembelajaran biologi di SMA seyogyanya dilaksanakan dengan pembelajaran kontekstual agar siswa dapat mengembangkan dan menerapkan pengetahuan akademik serta keterampilan mereka pada berbagai lingkungan sekolah maupun di luar sekolah dalam rangka pembekalan kecakapan hidup melalui latihan pemecahan masalah sehari-hari dilingkungan mereka. Proses pembelajaran sains diharapkan dapat mengaitkan pokok bahasan yang dijabarkan dengan permasalahan riil siswa di masyarakat. Disamping itu, siswa diharapkan dapat dilatih menerapkan dan mengalami pemecahan masalah sehari-hari yang bersangkut paut dengan peran dan tanggung jawab mereka sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan warga Negara untuk lebih memahami materi yang dipelajari. (Depdiknas, 2002:1).
Fenomena ini sesuai dengan (Alit Mariana, 2000; 9) yang mengatakan bahwa sarana dan sumber belajar hendaknya dikenal baik oleh siswa, sehingga pembelajaran yang baru langsung berkaitan dengan kehidupan sehari-hari mereka yang dapat diamati, relevan dan praktis. Sumber belajar hendaknya tersedia di lingkungan, murah, ada dalam jumlah yang cukup untuk guru dan siswa. Dengan demikian, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan guru ke siswa (Nurhadi, 2002: 6).
Dalam proses pembelajaran biologi, ada beberapa pokok bahasan yang dapat dikaitkan dengan kegiatan yang ada di masyarakat. Proses pembelajaran pokok bahasan ini akan lebih menarik dan menimbulkan rasa empati siswa pada lingkungan apabila dapat dikaitkan secara langsung dengan problema lingkungan atau dalam kehidupan sehari-hari yang sering dilakukan oleh masyarakat di sekitar sekolah bahkan oleh siswa itu sendiri. Media pembelajaran pokok bahasan semestinya dapat diambil atau mengajak siswa secara langsung terlibat dengan kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan pokok bahasan yang akan dikaji.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam karya ini, penulis mencoba untuk mengajak siswa untuk terlibat langsung dalam proses pembelajaran biologi yang berkaitan dengan aktivitas masyarakat di sekitar sekolah. Salah satunya adalah mengajak siswa untuk ikut terjun secara langsung dalam pembibitan atau persemaian biji salak dengan memanfaatkan limbah batu padas sebagai medium persemaian yang keberadaan sangat melimpah di Kecamatan Selat, Kecamatan Bebandem dan Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem Bali, baik bahannya (biji salak) maupun mediumnya (limbah batu padas). Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh Alit Mariana (2000:5), seyogyanya media pembelajaran dalam proses pembelajaran sains diharapkan tersedia dalam keadaan yang cukup, baik untuk guru maupun untuk siswa itu sendiri.
Dalam pembibitannya salak dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara generatif (dari biji) dan secara vegetatif (dari anakan). Tapi pada umumnya salak bali yang terkenal dengan rasa manis, ukuran buah relatif kecil, daging buahnya tebal berwarna kuning, bijinya kecil dan mempunyai sisik yang kecil-kecil pada kulit buahnya yang banyak tumbuh di kecamatan Bebandem, Selat, Rendang dan Sidemen, Kabupaten Karangasem lebih banyak dikembangbiakan dengan cara generatif (dari biji).
Penyedian bibit secara generatif dilakukan oleh petani melalui dua tahap. Tahap pertama: Pre-Nursery (persemaian), dan tahap kedua Main-Nursery (pembibitan). Tahap Pre-Nursery (persemaian merupakan tahap yang paling penting untuk menentukan keberhasilan dalam pembibitan. Dari pengamatan penulis, media yang umumnya dipakai petani pada tahap persemaian (Pre-Nursery) adalah tanah dicampur humus, sering gagal untuk berkecambah. Kegagalan tersebut lebih banyak penulis amati biji busuk akibat terlalu banyak teremdam air terutama pada musim hujan, karena daerah Selat, Sidemen, Bebandem dan Rendang merupakan daerah dengan curah hujan yang cukup tinggi dan busuk akibat terserang parasit terutama jamur.
Dari fenomena tersebut penulis ingin mencoba meneliti persemaian salak bali dengan menggunakan media limbah batu padas terutama limbah serbuk dan serpihan-serpihan kecil yang selama ini keberadaannya sangat melimpah yang belum dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan lebih banyak dipakai sebagai bahan timbunan atau bahan pencemar lingkungan. Melalui penelitian ini disatu sisi dapat melibatkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran khususnya pada pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, sekaligus menciptakan peluang usaha khususnya dalam penyediaan bibit salak dengan memanfaatkan limbah serta dapat membantu petani salak di Kecamatan Selat, Rendang dan Sidemen dalam usaha penyediaan bibit salak yang baik.
Keunggulan dari proses pembelajaran ini, siswa dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuan biologi yang akan dipelajari, karena informasi yang akan disampaikan kepada siswa, terlebih dahulu siswa terlibat langsung dalam kegiatan yang ada hubungannya dengan pengetahuan yang akan dipelajari dan siswa semakin menyadari akan kebesaran Tuhan dalam menciptakan alam semesta.
Rasionalisasi dari penelitian ini dengan menggunakan limbah batu padas akan terbebas dari kontaminasi bahan-bahan organik (sisa-sisa tumbuhan ataupun hewan) yang merupakan pemicu berkembangnya jamur parasit, karena diperoleh dari hasil pelapukan paksaan secara mekanik, baik oleh gergaji yang menghasilkan limbah serbuk maupun manual oleh manusia yang menghasilkan limbah serpihan. Disamping itu batu padas dengan tekstur yang berpori akan dapat menyerap dan menyimpan air pada musim hujan yang dapat mengurangi resiko biji salak teremdam air sebagai salah satu penyebab busuknya biji. Dan saat keberadaan air sedikit (musim kemarau) batu padas dapat menjaga kelembaban dengan kemampuannya menyimpan air, sehingga media tetap dalam keadaan basah/lembab. Dengan kondisi media seperti itu sangatlah cocok dipakai sebagai media awal persemaian (Pre-Nursery) biji salak.

1.2 Rumusan Masalah dan Pemecahan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar biologi siswa SMAN 1 Sidemen?
2. Apakah melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa?
3. Bagaimana pendapat siswa terhadap model pembelajaran contextual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dalam proses pembelajaran biologi?

1.2.2 Pemecahan Masalah
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman mengajar biologi di SMAN 1 Sidemen, dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang harus segera ditangani sebagai berikut :
1. Materi pelajaran yang diajarkan pada siswa cenderung berorientasi pada teori dari buku pelajaran yang sering menyebabkan kekurang tertarikan siswa pada materi yang diajarkan dan tidak berbasis pada permasalahan aktual yang dihadapi siswa dalam lingkungannya. Sementara dalam diskusi tentang cara dan materi pelajaran yang diajarkan siswa berkeinginan agar materi yang diajarkan bersumber dari permasalahan yang ditemukan oleh siswa itu sendiri.
2. Siswa belajar sains (biologi) hanya semata-mata untuk menghadapi ulangan atau ujian, dan tidak ada kaitannya dengan masalah dalam kehidupannya sehari-hari. Materi pelajaran Biologi dirasakan sebagai beban yang harus diingat, dihafal dan dipahami serta tidak dirasakan maknanya dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan pembelajaran Biologi kurang bermakna bagi siswa, serta mengurangi minat dan motivasi belajar siswa. Sebagai contoh, siswa mempelajari pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan serta reproduksi tumbuhan, namun mereka selalu membeli bibit, misalnya bibit salak untuk ditanam diladangnya, karena mereka tidak tahu bagaimana caranya tanaman salak dikembangbiakan dan faktor-faktor apa yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bibit salak. Disini nampak betapa kurang bermaknanya pelajaran Biologi yang dipelajarinya di sekolah, sehingga minat dan motivasi belajar siswa menjadi rendah.
3. Siswa hanya belajar Biologi di dalam ruangan yaitu ruang kelas dan laboratorium. Siswa belum pernah ditugasi untuk belajar Biologi di alam atau di masyarakat pada penerapan konsep-konsep Biologi dalam kehidupan sehari-hari.
4. Pada umumnya siswa belum memiliki kebiasaan memanfaatkan waktu di rumah atau di luar jam sekolah untuk belajar atau mempersiapkan diri dalam mengikuti proses pembelajaran di kelas. Pada umumnya siswa sibuk belajar menjelang akan menghadapi ulangan.
5. Hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Biologi dari tahun-tahun sebelumnya masih tergolong rendah.
Berdasarkan permasalahan yang ada pada pembelajaran Biologi di SMAN 1 Sidemen, Karangasem maka sangat perlu dicarikan alternatif pendekatan yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahan di atas. Suatu pendekatan yang diyakini dapat mengatasi permasalahan tersebut adalah melalui memanfaatkan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dalam pembelajaran biologi pada pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dengan pendekatan kontekstual. Rasional tindakan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Siswa dibagi ke dalam kelompok-kelompok, tiap kelompok ditugaskan untuk mengamati kendala-kendala yang dihadapi petani pembibit salak dan medium apa yang umumnya digunakan dalam pembibitan.
2. Penerapan contextual teaching and learning (CTL) melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dapat mengkondisikan siswa untuk belajar (meningkatkan kesiapan siswa) sebelum pembelajaran dimulai.
3. Permasalahan-permasalahan yang dilami/ditemui siswa di lapangan dan pembelajaran di kelas didiskusikan pada saat berlangsungnya pembelajaran (diskusi) di kelas.

1.2.3 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini hanya mengkaji pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual pada mata pelajaran Biologi khususnya pada pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan di kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem terhadap aktivitas dan motivasi belajar siswa, hasil belajar siswa dan untuk mengetahui pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan.
Terhadap pengaruh penggunaan medium limbah batu padas yang dipakai persemaian biji salak dengan persemaian biji salak pada medium tanah yang umumnya digunakan petani pembibit, siswa hanya mencari perbedaan pertumbuhan baik kualitas maupun kuantitas tanpa pengolahan secara statistik dan tidak menganalisi secara mendalam bahan dan proses biologis dari materi pembelajaran yang menyangkut penggunaan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak.

1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar siswa pada penerapan pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian salak
2. Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada penerapan pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian salak
3. Untuk mengetahui respon/pendapat siswa terhadap model pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dalam pengajaran Biologi di kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen tahun pelajaran 2007/2008

1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
Bagi Guru:
1. Dapat memberikan pengetahuan bagi guru tentang model pembelajaran yang memanfaatkan sumber pembelajaran di lingkungan siswa dan menerapkannya dalam proses pembelajaran biologi di kelas. Hal ini sangat bermanfaat bagi guru dalam merancang strategi pembelajaran yang dapat meningkatkan aktivitas, minat dan motivasi belajar.
2. Dapat menghasilkan suatu model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan peran guru sebagai fasilitator
3. Menghasilkan suatu model pembelajaran dengan memanfaatkan sumber belajar yang murah dan tersedia banyak serta sudah dikenal siswa, pembelajaran menjadi menarik dan rekreatif sehingga siswa lebih tertarik dan termotivasi untuk belajar Biologi yang pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
Bagi Siswa
1. Merangsang minat dan motivasi siswa untuk mempelajari biologi karena berhubungan dengan kegiatan sehari-hari.
2. Meningkatkan kemandirian dalam Kegiatan Belajar Mengajar
3. Muncul keceriaan dan kejujuran dalam belajar
4. Sadar terhadap lingkungan sekitar bahwa lingkungan disekitar sekolah dapat dipakai sebagai media belajar.


1.5 Hipotesis Tindakan
Adapun hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:
1. Penerapan kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi belajar biologi kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem tahun pelajaran 2007/2008.
2. Penerapan kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dapat meningkatkan hasil belajar Biologi kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem tahun pelajaran 2007/2008.
3. Respon/pendapat siswa terhadap model pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak dalam pembelajaran biologi adalah baik dan berharap model ini bisa digunakan terus.


















BAB II
KAJIAN TEORI

2.1 Hakekat Sains dan Implikasinya dalam Pembelajaran
Sains merupakan bagian kehidupan sejak manusia itu mengenal diri dan lingkungannya. Manusia dan lingkungan hidup merupakan sumber, objek, serta subjek sains. Secara sederhana, sains merupakan pengalaman individu manusia yang oleh masing-masing individu itu dirasakan atau dimaknai berbeda atau sama. Oleh karena itu, dengan latar belakang pengalaman berbeda, hal serupa akan dimaknai berbeda oleh individu berbeda. Hal semacam ini harus kita terima sebagai suatu realita yang perlu dihargai karena dengan perbedaan atau kesamaan pandang itulah sebenarnya sains berkembang. Pembelajaran sains memungkinkan siswa untuk menggali organisasi dan struktur bidang sosial, ekonomi, politik, serta teknologi. Sebagai bagian dari kebudayaan manusia , siswa akan mengetahui bahwa sains dan teknologi itu saling terkait untuk membentuk kehidupan manusia hingga saat ini serta implikasinya pada lingkungan hidup manusia itu sendiri.
Mata pelajaran biologi yang termasuk dalam rumpun pelajaran sains (IPA) memiliki tiga dimensi utama yaitu: dimensi konten, dimensi proses, dan dimensi sikap (Djulia dalam Sudibawa, 2007: 10). Sebagai kontek (produk), sains terdiri dari sekumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum tentang fenomena alam. Sebagai proses, sains merupakan serangkaian kegiatan yang terstruktur dan sistematis untuk menemukan fakta-fakta, prinsip-prinsip, dan hukum-hukum tentang fenomena alam. Kegiatan yang terstruktur dan sistematis itu mencakup metode ilmiah. Sedangkan sebagai sikap, sains mampu memberikan karakter bagi siswa sesuai dengan nilai sains. Siswa memiliki sikap objektif, jujur terhadap fakta, terbuka, bersedia memahami pendapat orang lain berdasarkan bukti ilmiah, tekun, tidak cepat putus asa, dan kritis.
Sebagai implikasi hakekat sains, maka pembelajaran sains hendaknya tidak semata-mata berorientasi pada sains sebagai “produk”, tetapi ditekankan pada sains sebagai “proses”. Hal ini selaras dengan tujuan pembelajaran sains yaitu siswa harus mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi, memiliki sikap ilmiah, mengembangkan keterampilan proses sains, serta memanfaatkannya dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Dengan demikian dalam pembelajaran sains diperlukan penilaian yang tidak hanya mencakup aspek pemahaman konsep (kognitif) saja, melainkan juga dengan mengevaluasi portofolio, serta bagaimana penampilan (performance) siswa dalam proses pembelajaran sains. (Depdiknas, 2003: 45)

2.2 Pembelajaran Biologi di SMA
Menurut kurikulum berbasis kompetensi (2001), tujuan mata pelajaran Biologi di SMA adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan kesadaran akan kelestarian lingkungan
2. Kebanggaan nasional dan pengakuan atas kebesaran serta kekuasaan Tuhan Yanga Maha Esa
3. Memahami konsep-konsep biologi dan saling keterkaitannya
4. Mengembangkan daya nalar untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari
5. Mengembangkan keterampilan dasar biologi untuk memperoleh konsep-konsep biologi dan menumbuhkan nilai serta sikap ilmiah
6. Menerapkan konsep dan prinsip biologi untuk menghasilkan karya teknologi sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia
7. Memberikan bekal pengetahuan dasar untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya
Melihat karakteristik siswa dan karakteristik biologi yang spesifik, pendekatan yang digunakan sudah semestinya mendudukan siswa sebagai pusat perhatian utama. Peran guru tidak ditentukan oleh didaktik-metodik “apa yang akan digunakan” tetapi pada “ bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar anak”. Pengalaman belajar siswa diperoleh melalui serangkaian dengan mengekplorasi lingkungan melalui interaksi aktif.
Menurut Wuryadi (1971) pendidikan biologi bukan sekedar memberikan pengertian-pengetian biologi saja, tetapi lebih banyak dihubungkan dengan pengembangan nilai-nilai dari anak. Biologi merupakan konsep keilmuan yang bersifat dinamis, bukan merupakan kumpulan pengetahuan yang statis, sehingga di dalam mengajar biologi, guru harus memberikan kesempatan melakukan aktivitas. Dalam proses pembelajaran pusat perhatian utama adalah siswa dengan segala potensi dan kebutuhannya.

2.3 Realita Pembelajaran Biologi
Menurut Sund (1999) dalam KBK (2002) sains (biologi) mempunyai dimensi sikap, proses dan produk ilmiah. Kualitas produk ilmiah sangat ditentukan oleh kualitas proses sains ditentukan oleh sikap ilmiah. Biologi sebagai proses sains diperoleh melalui kegiatan ilmiah yang disebut metode ilmiah. Kelengkapan kegiatan ilmiah inilah yang sekarang banyak ditinggalkan oleh guru dalam mengajarkan mata pelajaran biologi termasuk dalam mengevaluasinya yang lebih cenderung mengukur kemampuan kognitif saja dan kurang memperhatikan aspek afektif dan psikomotor. Pada kenyataannya guru lebih terbelenggu dengan padatnya materi dan terbatasnya waktu untuk mengejar target kurikulum; guru pada umumnya hanya menggunakan metode ceramah. Kondisi demikian menyebabkan guru tidak dapat mengembangkan keterampilan proses ilmiah seperti mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, membuat inferensi, mengidentifikasi variabel, mendesain dan melakukan percobaan, mengontrol variabel, mengumpulkan data, mengorganisasi data, menggunakan alat ukur, membuat hipotesis, memaknai data, menyusun kesimpulan dan mengkomunikasikan hasil/ide-idenya sehingga pembelajaran menjadi kurang menarik dan membosankan. Kenyataan ini menyebabkan semakin menurunnya sikap-sikap ilmiah seperti rasa ingin tahu, tekun dan tidak menyerah (KBK, 2002).

2.4 Konsep Dasar Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning – CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Sehubungan dengan hal itu, terdapat lima karakteristik penting dalam proses pembelajaran yang menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu:
1. Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge), artinya apa yang akan dipelajari tidak terlepas dari pengetahuan yang sudah dipelajari, dengan demikian pengetahuan yang akan diperoleh siswa adalah pengetahuan yang utuh yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
2. Belajar dalam rangka memperoleh dan menambah pengetahuan baru (acquiring knowledge). Pengetahuan baru itu diperoleh dengan cara deduktif, artinya pembelajaran dimulai dengan mempelajari secara keseluruhan, kemudian memerhatikan detailnya.
3. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), artinya pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal tetapi untuk dipahami dan diyakini, misalnya dengan cara meminta tanggapan dari yang lain tentang pengetahuan yang diperolehnya dan berdasarkan tanggapan tersebut baru pengetahuan itu dikembangkan.
4. Mempraktikkan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge), artinya pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya harus dapat diaplikasikan dalam kehidupan siswa, sehingga tampak perubahan perilaku siswa.
5. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan. Hal ini dilakukan sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan strategi.

2.5 Peranan Guru dan Siswa dalam Kontekstual
Setiap siswa mempunyai gaya yang berbeda dalam belajar. Perbedaan yang dimiliki siswa tersebut oleh Bobbi Deporter (1992) dinamakan sebagai unsur modalitas belajar. Menurutnya ada tiga tipe gaya belajar siswa, yaitu tipe visual, auditorial, dan kinestesis. Tipe visual adalah gaya belajar dengan cara melihat, artinya siswa akan lebih cepat belajar dengan cara menggunakan indra penglihatannya. Tipe auditorial adalah tipe belajar dengan menggunakan alat pendengarannya, sedangkan tipe kinestetis adalah tipe belajar dengan cara bergerak, bekerja, dan menyentuh. (Wina Sanjaya, 2007: 262).
Dalam proses pembelajaran kontekstual, setiap guru perlu memahami tipe belajar dalam dunia siswa, artinya perlu menyesuaikan gaya mengajar terhadap gaya belajar siswa. Dalam proses pembelajaran konvensional, hal ini sering terlupakan sehingga proses pembelajaran tak ubahnya sebagai proses pemaksaan kehendak, yang menurut Paulo Freire sebagai system penindasan. (Wina Sanjaya, 2007: 262).
Sehubungan dengan hal itu, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan bagi setiap guru manakala menggunakan pendekatan kontekstual.
1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau “penguasa” yang memaksakan kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka bisa belajar sesuai dengan tahap perkembangannya
2. Setiap anak memiliki kencenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh tantangan. Kegemaran anak adalah mencoba hal-hal yang dianggap aneh dan baru. Dengan demikian, guru berperan dalam memilih bahan-bahan belajar yang dianggap penting untuk dipelajari siswa.
3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterhubungan antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui. Dengan demikian, peran guru adalah membantu agar setiap siswa mampu menemukan keterkaitan antara pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya.
4. Belajar bagi siswa adalah proses menyempurnakan skema yang telah ada (asimilasi) atau proses pembentukan skema baru (akomodasi), dengan demikian tugas guru adalah memfasilitasi (mempermudah) agar anak mampu melakukan proses asimilasi dan proses akomodasi.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka ada beberapa asas yang melandasi pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual, yaitu.
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut Mark Baldawin dan dikembangkan oleh Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan hanya dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. Pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari dalam diri seseorang. Oleh sebab itu pengetahuan terbentuk oleh dua faktor penting, yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dan kemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut.
2. Inkuiri
Artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Belajar pada dasarnya merupakan proses mental seseorang yang tidak terjadi secara mekanis.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakekatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam pembelajaran kontekstual, guru tidak menyampaikan informasi begitu saja, akan tetapi memancing agar siswa dapat menemukan sendiri.

4. Masyarakat belajar (learning community)
Leo Semennovich Vygotsky, mengatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendirian, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Kerjasama saling memberi dan menerima sangat dibutuhkan untuk memecahkan suatu persoalan. Konsep masyarakat belajar (learning community) dalam kontekstual menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Kerjasama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam kelompok belajar formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara alamiah.
5. Pemodelan (modeling)
Yang dimaksud modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan.
6. Refleksi (reflecion)
Refleksi adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Melalui proses refleksi, pengalaman belajar itu akan dimasukkan dalam struktur kognitif siswa yang pada akhirnya akan menjadi bagian dari pengetahuan yang dimilikinya.
7. Penilaian nyata (authentic assessment)
Proses pembelajaran konvensional yang sering dilakukan guru pada saat ini, biasanya ditekankan kepada perkembangan aspek intelektual, sehingga alat evaluasi yang digunakan terbatas pada penggunaan tes. Dengan tes dapat diketahui seberapa jauh siswa telah menguasai materi pelajaran. Dalam kontekstual, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh aspek. Oleh sebab itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek hasil belajar seperti hasil tes, akan tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.
Pelaksanaan penelitian yang menerapkan model pembelajaran contextual telah banyak dilakukan dalam pembelajaran dan menghasilkan temuan yang positif dalam pembelajaran sains maupun yang lainnya. Depdiknas (2002: 18), melaporkan pendekatan STM yang merupakan salah satu cara pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sosial dan masyarakat. Putu Sudibawa (2007: 20), memaparkan laporan penelitian dengan memanfaatkan kegiatan masyarakat penenun yang di kemas dengan menggunakan pendekatan kontekstual ternyata dapat meningkatkan aktivitas belajar, motivasi belajar, dan hasil belajar siswa di SMAN 1 Sidemen serta dapat menigkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sekitar dan semakin meyakinkan kebesaran dan keagungan Tuhan Penerapan pembelajaran kontekstual yang menjadi rekomendasi dari Depdiknas RI baik melalui Puskur Kurikulum, maupun melalui lembaga penelitian dan pengembangan, dalam pembelajaran sains dapat meningkatkan kepedulian siswa terhadap lingkungan sosial dan masyarakat. Oleh karena itu sudah banyak yang melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kontekstual.

2.6 Tinjauan Tentang Salak Bali
Bali dikenal kaya dengan berbagai jenis flora maupun fauna, dan beberapa diantaranya bersifat endemik. Diantara jenis tanaman endemik/khas Bali adalah salak bali. Salak dalam bahasa latinnya adalah Salacca edulis L. atau Salacca zalacca Gaertn. Voss. dan termasuk famili Palmae (Arecaceae). Salak Bali terkenal karena rasanya manis, ukuran buah relatif kecil, daging buahnya tebal berwarna kuning, bijinya kecil, dan mempunyai sisik yang kecil-kecil pada kulit buahnya. Tidak semua salak yang tumbuh di Bali rasanya manis. Salak Bali yang terkenal sebenarnya berasal dari perkebunana Salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem Kabupaten Karangasem yang memiliki ketinggian sekitar 500-600 meter di atas permukaan laut, merupakan daerah lahan kering beriklim basah dengan jenis tanah yang dominan laterit. (Supriono Guntoro, 1998: 1)
Salak Bali terdiri dari berbagai macam jenis (kultivar), yang hingga kini telah diketahui sedikitnya 15 kultivar. Dari ke 15 jenis tersebut salah satunya adalah Salak Gula Pasir, yang berdasarkan SK. Menteri Pertanian No:584/Kpts/TP.240/7/94 telah ditetapkan sebagai varietas salak unggul, terlepas dari jenis Salak Bali yang lain. Sedangkan keberadaan varietas Salak Bali ditetapkan berdasarkan SK. Menteri No : 585/Kpts/TP.240/7/94.
Secara umum Salak Bali memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Tanaman salak berbatang pendek dengan ruas-ruas yang rapat dan tertutup pelepah daun yang tersusun rapat dan berduri. Daun tersusun rapat dengan anak daun menyirip berbentuk pedang. Dari batang tumbuh tunas baru (yang dapat menjadi anakan) dan tunas bunga. Berakar serabut dan mempunyai akar udara yang selanjutnya menuju tanah sebagai akar biasa.
2. Bunga salak termasuk bunga sempurna dimana pada satu pohon terdapat bunga jatan dan bunga betina, yang terdapat pada tandan dan kuntum yang sama. Sifat bunga yang demikian mengakibatkan bunga Salak Bali bisa menyerbuki sendiri, bahkan diketahui dapat melakukan penyerbukan sebelum seludang tandan tumbuh (sifat kleistogami).
3. Buah salak siap panen bila telah berumur 5 – 5,5 bulan sejak seludang terbuka, bentuk buah lonjong atau bulat. Daging buah terdiri dari 3 segmen, dimana 1 – 3 kemungkinan segmen induk dan 1 – 2 segmen anak. Biji terdapat pada segmen induk 1 – 3 butir, tetapi kebanyakan 1 – 2 butir.
4. Dikenal dua musim berbuah, panen raya (berbuah lebat) dan panen gadu (berbuah sedikit). Panen raya jatuh pada bulan Januari – Maret dan panen gadu enam bulan kemudian, yaitu sekitar bulan Agustus – September.

2.5.1 Syarat Tumbuh
Tanaman Salak dalam proses tumbuh dan berkembangnya membutuhkan beberapa syarat tertentu agar pertumbuhan dan perkembangannya baik. Secara garis besarnya di pengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor dalam yaitu kualitas bibit dan faktor luar yang meliputi iklim terutama curah hujan yang baik untuk pertumbuhan salak adalah rata-rata 200 – 400mm perbulan, kedua tofografi, tanaman salak akan tumbuh baik pada ketinggian 0 – 700 meter di atas permukaan laut. Di Bali, tanaman salak tumbuh baik pada bukit bagian selatan Gunung Agung, dengan ketinggian 600 - 700m di atas permukaan laut, ketiga kesuburan tanah, yaitu tanah yang kaya bahan organik, gembur, dapat menyimpan air, tidak tergenang air, dan mengadung beberapa unsur hara yang penting, dan keempat faktor biotik (Nur Tjahjadi, 2005:17).

2.5.2 Penyediaan Bibit
Penyedian bibit dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara generatif (dari biji) dan secara vegetatif (dari anakan). Secara generatif berasal dari buah salak yang rasanya manis, berdaging tebal, berukuran besar, dan yang mempunyai sifat-sifat istimewa lain (misalnya masir)
Penyediaan bibit secara generatif dilakukan melalui dua tahap kegiatan. Tahap pertama Pre-Nursery (persemaian), dan tahap kedua Main-Nursery (pembibitan). Sedangkan penyediaan bibit secara vegetatif diambil dari tanaman salak yang sudah berbuah. Anakan yang akan dijadikan bibit diambil dari tanaman yang sehat, produksinya banyak, rasanya manis, serta yang memiliki sifat-sifat istimewa lainnya.

2.7 Kerangka Berpikir
Berdasarkan kajian teori dan hasil-hasil penelitian yang terungkap di atas, dapat dibuat kerangka berpikir sebagai berikut. Penerapan pembelajaran kontekstual melalui pemanfaatan limbah batu padas sebagai medium persemaian biji salak memungkinkan akan terjadi komunikasi di mana siswa saling berbagi ide atau pendapat. Melalui diskusi akan terjadi elaborasi kognitif yang baik, sehingga dapat meningkatkan daya nalar, keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengungkapkan pendapatnya.
Penerapan pembelajaran kontekstual sangat relevan dilakukan pada mata pelajaran biologi di kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem, sehingga model pembelajaran ini diyakini akan dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran ditinjau dari aspek keterlibatan siswa dalam pembelajaran dan aspek pemahaman materi pelajaran yang pada akhirnya siswa dapat menyelesaikan pembelajaran dengan prestasi baik atau meningkat dari sebelumnya. Karena penerapan model pembelajaran ini akan dapat memberikan kelebihan dimana siswa dapat menerapkan langsung konsep-konsep biologi dengan kehidupan mereka sehari-hari. Hal ini dapat membuat materi pelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa menemukan hubungan antara pengetahuan yang dipelajari di sekolah dengan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya sehari-hari. Dan pembelajaran biologi dilakukan sesuai dengan hakekat sains, yaitu sains sebagai produk dan sains sebagai proses yang diajarkan melalui penerapan metode ilmiah yang secara bertahap disertai dengan pengembangan keterampilan sains. Sehubungan hal tersebut dapat dipastikan bahwa kualitas pembelajaran biologi di kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem dapat meningkat.

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

3.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMAN 1 Sidemen, Karangasem selama 2 bulan mulai dari bulan Juli sampai Agustus 2008

3.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah semua siswa kelas XII PSIA SMAN 1 Sidemen, Karangasem semester 1 tahun pelajaran 2007/2008 yang berjumlah 40 orang. Alasan pengambilan subjek penelitian ini karena di kelas tersebut ditemukan beberapa permasalahan sebagai berikut : 1) permasalahan yang disajikan cenderung kurang dikaitkan dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, 2) sikap siswa dalam pembelajaran biologi masih kurang aktif, 3) pembelajaran biologi cenderung didominasi dengan menggunakan metode ceramah, dan 4) permasalahan yang berkaitan dengan penelitian ini yaitu tentang pertumbuhan dan perkembangan muncul di kelas XII PSIA semester 1

3.3 Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah aktivitas belajar siswa, motivasi belajar siswa, hasil belajar siswa, dan pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan.

3.4 Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 (dua) siklus, dengan masing-masing siklus terdiri dari tahapan perencanaan, tindakan, observasi/evaluasi, dan refleksi. Desain PTK yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain PTK model Kemmis dan Mc Taggart, ditunjukkan pada gambar 3.1.







SIKLUS I






SIKLUS II




Dst…
Gambar 3.1 Disain PTK Model Kemmis dan Mc Taggart
(Diadopsi dari Soedarsono, 1996/1997:16)
Rincian materi pada masing-masing siklus seperti tabel 3.1.
Tabel 3.1 Rincian Materi Pelajaran
Siklus Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Waktu
I 1.1 Merencanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan 1. Pertumbuhan dan perkembangan
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
3. Merancang percobaan 3 kali pertemuan, masing-masing dua jam pelajaran
II 1.2 Melaksanakan percobaan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan 1. Pertumbuhan primer
2. Pertumbuhan sekunder
3. Melakukan percobaan dan pengolahan data hasil eksperimen
3 kali pertemuan, masing-masing dua jam pelajaran

3.4.1 Refeksi Awal
Penelitian ini diawali dengan refleksi awal, yang bertujuan untuk mengidentifikasi permasahan-permasahan dan kendala-kendala yang dialami siswa ataupun guru, memperkirakan strategi untuk mengatasi permasalahan tersebut, serta kelemahan-kelemahan metode dan proses pembelajaran yang diterapkan selama ini. Dari refleksi awal yang dilakukan di kelas XII PSIA terhadap mata pelajaran biologi diidentifikasi masalah, yaitu hasil belajar siswa tergolong rendah dengan rerata kompetensi dasar aspek kognitif siswa adalah 69,40, aspek psikomtor 69,22 dengan kentuntasan klasikal 81% dan aspek afektif berada pada kualifikasi sedang. Aktifitas dan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran biologi rendah hal ini dapat dilihat dari kurang bergairahnya siswa saat menerima pelajaran. Sebagai refleksi awal dapat diidentifikasi bahwa rendahnya hasil belajar, aktifitas dan motivasi belajar disebabkan oleh faktor: 1) permasalahan yang disajikan cenderung kurang dikaitkan dengan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari, 2) sikap siswa dalam pembelajaran biologi masih kurang aktif, 3) pembelajaran biologi cenderung didominasi dengan menggunakan metode ceramah.
3.4.2 Siklus I
1) Perencanaan
1. Menentukan kompetensi dasar yang akan dibelajarkan pada siklus I yaitu merencanakan pengamatan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tumbuhan, yang mencakup materi; 1) pertumbuhan dan perkembangan, 2) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, dan 3) merancang percobaan. Materi yang dibelajarkan pada siklus I dimuat dalam 3 skenario pembelajaran, sehingga proses pembelajaran pada siklus I terdiri dari 3 kali pertemuan dan sekali tes akhir siklus I.
2. Langkah-langkah menyiapkan instrumen adalah sebagai berikut.
1) Menjabarkan materi pembelajaran menjadi unit-unit kecil dengan distribusi materi tersebut untuk dua siklus sesuai pada tabel 3.1
2) Merumuskan indikator hasil belajar
3) Menyiapkan skenario pembelajaran siklus I yang sesuai dengan pembelajaran kontekstual
4) Menyusun lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran
7) Menyusun lembar observasi motivasi siswa selama proses pembelajaran
8) Menyusun tes aspek kognitif siklus I (tes evaluasi siklus I)
9) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok yang heterogen, dengan anggota 5 orang. Untuk selanjutnya melaksanakan tugas dengan tahapan sebagai berikut:
• Menugaskan siswa (sesuai dengan kelompoknya) untuk mengamati tahap-tahap yang dilakukan oleh petani pembibit salak dalam proses pembibitannya.
• Mengamati media yang umumnya dipakai oleh petani pembibit salak dalam pembibitannya. Serta mencari informasi tentang kendala-kendala apa yang sering ditemukan petani dalam proses pembibitan.
2) Pelaksanaan
Lankah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut.
Pertemuan 1
1) Menyampaikan kepada siswa kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan
2) Guru menyajikan masalah-masalah kontekstual yang terkait dengan pokok bahasan pertumbuhan dan perkembangan
3) Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompoknya masing-masing
4) Membimbing kelompok dalam bekerja dan belajar terutama persiapan siswa mengamati dan mewawancari petani pembibit salak sekaligus mengobservasi keterampilan dan sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran di lapangan.
5) Siswa mencatat hasil pengamatan dan hasil wawancaranya
6) Siswa dalam kelompoknya membuat laporan dari hasil pengamatannya.
Pertemuan 2
1) Memberikan apersepsi/motivasi kepada siswa tentang materi pelajaran yang akan dipelajari
2) Mengorganisasikan kelompoknya masing-masing sesuai dengan kelompok pada pertemuan pertama
3) Mengekplorasi gagasan/prakonsepsi siswa tentang konsep yang akan dibahas
4) Mempresentasikan laporan yang dibuat masing-masing kelompok dari hasil pengamatan yang dilakukan pada pertemuan pertama
5) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil laporan yang telah dipresentasikan oleh masing-masing kelompok secara umum.
Pertemuan 3
Pada pertemuan ketiga, siswa diberikan tes aspek kognitif pada pokok bahasan yang telah dibelajarkan pada siklus I. siswa juga diberikan angket mengenai aktivitas belajar dan motivasi belajar.
3) Observasi/Evaluasi Siklus I
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Mengavaluasi hasil pembelajaran di akhir siklus I menggunakan tes untuk mengukur aspek kognitif yang diberikan pada siklus I
2) Mengevaluasi proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual
3) Mengobservasi aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran menggunakan lembar observasi
4) Mencatat dan mengevaluasi kendala-kendala, kesulitan, dan hal-hal positif yang ditemukan selam proses pelaksanaan tindakan pada siklus I
Dalam tahap observasi ini peneliti mengobservasi setiap pertemuan dibantu oleh satu orang guru biologi
4) Refleksi Siklus I
Ini dilakukan untuk mengevaluasi kendala-kendala yang ditemukan dan hal-hal positif yang ditemukan selama proses pembelajaran pada siklus I untuk digunakan sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran pada siklus II.
3.4.3 Siklus II
1) Perencanaan
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah sebagai berikut:
1) Mengimpormasikan kembali kepada siswa mengenai pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
2) Menyiapkan scenario pembelajaran siklus II
3) Menyusun lembar kerja siswa (LKS)
4) Menyusun lembar observasi aktivitas dan motivasi belajar siswa selama proses pembelajaran pada siklus II
5) Menyusun tes aspek kognitif siklus II (tes evaluasi siklus II)
6) Untuk memperlancar kegiatan pembelajaran dilakukan:
- Menugaskan siswa untuk mencari limbah batu padas
- Menugaskan siswa untuk membawa biji salak yang baru untuk digunakan sebagai bibit
2) Pelaksanaan tindakan
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
Pertemuan 1
1) Menyampaikan kepada siswa kompetensi dasar dan indikator hasil belajar sesuai dengan skenario pembelajaran yang akan dilaksanakan
2) Guru menyajikan masalah-masalah kontekstual yang terkait dengan pokok bahasan, yaitu: 1) pertumbuhan primer, 2) pertumbuhan sekunder, dan 3) melakukan percobaan dan pengolahan data hasil eksperimen
3) Mengorganisasikan siswa dalam kelompoknya masing-masing
4) Siswa melakukan percobaan persemaian biji salak seperti langkah-langkah yang diuraikan dalam LKS, atau sama dengan apa yang dilakukan oleh petani pembibit salak yang sudah diperoleh siswa saat terjun langsung ke lapangan hanya saja medium yang umumnya digunakan oleh petani yaitu berupa campuran tanah dengan humus diganti dengan menggunakan limbah batu padas.
5) Membimbing kelompok dalam bekerja dan belajar sekaligus guru yang lain mengobservasi keterampilan dan sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran.
6) Memberikan kuis untuk mengetahui pemahaman masing-masing siswa terhadap materi yang diajarkan.
Pertemuan 2
Guru membagikan hasil kuis pertemuan 1, selanjutnya langkah-langkah yang dilakukan pada pertemuan 2 adalah merupakan kelanjutan dari pertemuan 1, dimana tugas dikerjakan siswa pada pertemuan ini adalah sebagai berikut:
1) Menugaskan siswa untuk mengamati hasil percobaan yang telah dilakukan pada pertemuan 1
2) Mencabut biji salak yang telah tumbuh dan menghitung berapa jumlah biji salak yang tumbuh.
3) Mengukur panjang batang dan akar yang tumbuh
4) Menghitung jumlah akar yang tumbuh.
5) Membandingkan biji salak hasil percobaannya dengan biji salak yang disemaikan oleh petani pembibit yang umumnya menggunakan medium campuran tanah dan humus.
6) Masing-masing kelompok membuat laporan dari hasil percobaan yang telah dilakukan.
Pertemuan 3
Pada pertemuan ketiga, siswa diberikan tes aspek kognitif pada pokok bahasan yang telah dibelajarkan pada siklus II. Siswa juga disebarkan angket mengenai aktivitas belajar, motivasi belajar, dan pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan.
3) Observasi/Evaluasi Siklus II
Langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Mengevaluasi hasil pembelajaran di akhir siklus II berdasarkan tes kognitif yang diberikan pada siklus II
2) Mengobservasi aktivitas dan motivasi belajar siswa dengan menggunakan lembar observasi
3) Mengevaluasi hasil pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual
4) Mencatat dan mengevaluasi kendala-kendala, kesulitan dan hal-hal positif yang ditemukan selama pembelajaran pada siklus II
Sebagai indikator keberhasilan penerapan model pembelajaran ditetapkan beberapa indikator sebagai berikut:
1) Prosentase siswa yang mendapat nilai 70 ke atas meningkat minimal 15 % dari nilai biologi sebelumnya
2) Prosentase kepuasan terhadap model pembelajaran yang diterapkan lebih dari 50% siswa senang terhadap model pembelajaran yang diterapkan
3) Aktivitas belajar siswa minimal tergolong cukup, motivasi belajar siswa minimal tergolong cukup, dan rerata hasil belajar siswa minimal tergolong cukup. Siswa dinyatakan berhasil jika sudah mencapai nilai ketuntasan belajar yaitu 70%. Proses pembelajaran dianggap berhasil jika lebih dari 85% siswa berhasil memperoleh nilai 70 ke atas. Dan persepsi siswa terhadap penyelenggaraan pembelajaran positif.
4) Refleksi Siklus II
Dilakukan untuk mengetahui hal-hal positif dan kendala-kendala apa yang ditemukan pada siklus II serta membandingkan dengan apa yang ditemukan pada siklus I. Hal ini nantinya juga dipakai dasar untuk menyusun program berikutnya.

3.5 Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Data yang dikumpulkan untuk dianalisis dalam penelitian ini meliputi aktivitas belajar, motivasi belajar, hasil belajar dan pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan. Data aktivitas belajar siswa dikumpulkan dengan angket observasi pada akhir siklus I dan siklus II. Data motivasi belajar dikumpulkan dengan menggunakan angket. Data hasil belajar dikumpulkan dengan melakukan tes aspek kognitif. Dan data mengenai respon/pendapat siswa terhadap model pembelajaran dikumpulkan dengan angket dengan lima pilihan, yaitu SS, S, TT, TS, dan STS, dan melalui wawancara dengan beberapa orang siswa. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini disajikan pada tabel 3.2
Tabel 3.2 Jenis Data, Sumber Data, dan Instrumen Penelitian
No Jenis data Sumber Data Instrumen Penelitian Metode
(1) (2) (3) (4) (5)
1

2
3
4 Aktivitas belajar

Motivasi belajar
Hasil belajar
Respon/pendapat siswa Siswa dan Guru
Siswa
Siswa
Siswa Angket dan Lembar Observasi
Angket
Kuis, Tes
Angket dan Lembar Wawancara Observasi dan Tes
Tes
Tes
Tes dan Wawancara

3.6 Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa skor aktivitas, motivasi, hasil berlajar,dan prosentase pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan (hasil angket tertutup. Dan data kualitatif berupa hasil observasi terhadap aktivitas belajar, motivasi dan pendapat siswa terhadap model pembelajaran yang diterapkan (hasil angket terbuka) dan hasil wawancara. Baik data kuantitatif maupun kualitatif dianalisis secara deskriptif. Data kuantitatif tentang aktivitas dan motivasi belajar siswa disajikan dalam bentuk skor rerata dan selanjutnya dikonversikan menggunakan pedoman konversi skor seperti tabel 3.3 Data tentang hasil hasil belajar siswa disajikan dalam bentuk skor rerata yang selanjutnya dikonversikan menggunakan pedomen konversi seperti pada tabel 3.4. Data pendapat siswa tentang model pembelajaran yang diterapkan (hasil angket tertutup), disajikan dalam bentuk prosentase dan dianalisis dengan membandingkan jumlah prosentase siswa menjawab SS dan S terhadap jumlah prosentase siswa menjawab TS dan STS. Respon siswa dikatakan positif (baik) jika perbandingan jumlah prosentase siswa menjawab SS dan S lebih banyak daripada jumlah siswa menjawab TS dan STS.
Tabel 3.3 Pedomen Konversi Skor Rerata Aktivitas dan Motivasi Belajar
Siswa
Rerata Skor Kategori
4,50 – 5,00 Sangat tinggi
3,50 – 4,49 Tinggi
2,50 – 3,49 Cukup
1,50 – 2,49 Rendah
1,00 – 1,49 Sangat rendah

Tabel 3.4 Pedomen Konversi Skor Rerata Hasil Belajar Siswa

Rerata Skor Kualifikasi
85 – 100 Sangat baik
70 – 84 Baik
55 – 69 Cukup baik
40 – 54 Kurang baik
0 – 39 Sangat kurang baik
(Sumber: Pedoman Studi IKIP Negeri Singaraja, 2002






DAFTAR PUSTAKA

Alwasilah, Chaedar. 2007. Contextual Teaching and Learning. Jakarta: MLC
Anonim, 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Biologi SMU dan MA. Jakarta : Pusat Kurikulum, Balitbang, Depertemen Pendidikan Nasional

Anonim, 2003. Teknologi Produksi Tanaman Salak Gula Pasir. Karangasem: Dinas Pertanian Tanaman Pangan Dan Holtikultura.

Anonim, 2007. Budidaya Salak. Jakarta: PT AgroMedia Pustaka

Aqib, Zainal. 2002. Profesional Guru Dalam Pembelajaran. Surabaya: Insan Cendekia.

Bawa, Wayan. 1997. Dasar-Dasar Metodologi Penelitian. STKIP Singaraja

Depdikbud. 1979. Petunjuk Pengelolaan Laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam. Bandung: CV Rosda

Depdiknas. Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah. Direktorat Sekolah Lanjutan Pertama. 2003. Pedoman Pembuatan Laporan Hasil Belajar. Jakarta : Depdiknas.

Febriantio, 1999. Kumpulan Naskah Pemenang Lomba Penelitian Ilmiah Remaja. Pariaman: Depdiknas

Guntur, Supriyono. 1998. Salak Bali dan Pembudidayaannya. Denpasar: Pemda TK I Propinsi Bali

Nana Sudjana, 1995. Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar BAru Algensindo.

Nur. M. dan Wikandari. R. P. 1998. Pendekatan-Pendekatan Konstruktivis dalam Pembelajaran. Surabaya : IKIP Surabaya.

Nurhadi, 2002. Pendekatan Kontekstual. Jakarta : Dirjen Dikdasmen Depdiknas.

Pratiwi, dkk. 2004. Penuntun Biologi SMA Untuk Kelas XII. Jakarta: Erlangga

Saiful Sagala, H. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta

Sarna, I Ketut. 2003. Pembelajaran Partisipatif. Makalah Disampaikan dalam Rangka Pelatihan Operasional Perbaikan dan Peningkatan Sistem Pembelajaran di Sekolah pada tanggal 5 – 9 Oktober 2003. Singaraja : IKIP Negeri Singaraja.

Soetomo, 1993. Meningkatkan Interaksi Belajar Mengajar. Surabaya : Sinar Baru

Suharsini Arikunto, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.

Suhardjono, 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara.

Sudana Martayasa, I Komang. 2007. Salakku Bersemi Di Limbah Batu Padas. Laporan Penelitian. Program City Succes Fund (karya tidak diterbitkan).

Sudana Martayasa, I Komang. 2007. Efektivitas Pemanfaatan Laboratorium Biologi Sebagai Implementasi Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Di SMAN 1 Sidemen. Laporan Penelitian (karya tidak diterbitkan)

Sudibawa, I Putu dan I Gusti Ngurah Bawa. 2007. Peningkatan Kualitas Pembelajaran dengan Eksplorasi Kegiatan Masyarakat Penenun Menggunakan Pendekatan STM sebagai Cara Pembelajaran Kontekstual di Kelas XI PSIA 1 SMAN 1 Sidemen. Laporan Penelitian (tidak diterbitkan)

Tjahjadi, Nur. 2005. Bertanam Salak. Palembang: Kanisius

Trianto, 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka

_______, 2008. Mendesain Pembelajaran Kontekstual. Jakarta: Cerdas Pustaka Publisher.

Wina Sanjaya, 2006. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Wuryadi, 1971. Dasar-Dasar Pengertian Pendidikan Biologi dan Problem-Problemnya. Dalam Forum Pendidikan Biologi No. III/ Maret 1971

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar